REFLEKSI / PPG 2026

RefleksiSemester 2

Ruang digital untuk merekam pengalaman belajar, tantangan, pemahaman konseptual, dan perubahan diri selama menjalani lima mata kuliah pada Semester 2 PPG Prajabatan.

  • Portofolio Refleksi Digital
  • Syaifullah Zuhri, S.Sos
  • Broadcasting dan Perfilman
  • PPG Prajabatan 2026
Syaifullah Zuhri
Syaifullah Zuhri, S.SosBroadcasting dan Perfilman ◈ 2026
PPG Prajabatan
2026
Broadcasting dan Perfilman Digital
Refleksi
SCROLL TO EXPLORE

Journey

My PPG Journey

01

Orientation

Memperdalam pemahaman terhadap kebutuhan peserta didik dan tanggung jawab guru.

02

Learning

Mempelajari pendidikan inklusif, PSE, asesmen, dan kepemimpinan.

03

Practice

Menghubungkan teori dengan perencanaan pembelajaran dan praktik mengajar.

04

Reflection

Mengevaluasi pengalaman, tantangan, artefak, dan umpan balik.

05

Growth

Menyusun komitmen perubahan untuk menjadi pendidik yang reflektif dan adaptif.

Refleksi Umum

Apa yang Saya Pelajari Semester 2?

Dari memahami kebutuhan murid menuju pembelajaran yang inklusif, bermakna, kolaboratif, dan reflektif.

Memahami kebutuhan individual peserta didik. Menggunakan asesmen untuk menentukan keputusan pembelajaran.

Mengintegrasikan kompetensi sosial emosional. Merancang proyek kolaboratif dengan pembagian tanggung jawab yang jelas.

Memperbaiki praktik mengajar secara konsisten melalui refleksi dan umpan balik yang konstruktif dari Guru Pamong dan peserta didik.

Menjadi pendidik yang tidak hanya menguasai materi, tetapi juga mengenali masalah, menyusun tujuan, dan menciptakan lingkungan belajar yang mendukung perkembangan murid.

Courses

Refleksi Mata Kuliah

01 / PSE

Pembelajaran Sosial Emosional

Fokus: Mengintegrasikan lima kompetensi sosial emosional berdasarkan kerangka CASEL ke dalam pembelajaran akademik dan keteladanan guru.

Pengalaman utama: Merancang pembelajaran Menggambar Perspektif dengan integrasi PSE dan karakteristik guru teladan.

Baca Refleksi Lengkap (4C)
1. Connection (Keterkaitan) Pengalaman belajar yang paling bermakna bagi saya dalam mata kuliah Pembelajaran Sosial Emosional adalah ketika merancang pembelajaran Menggambar Perspektif dengan mengintegrasikan lima kompetensi PSE. Pengalaman ini mengubah pemahaman saya bahwa keberhasilan pembelajaran tidak hanya ditentukan oleh penguasaan materi, tetapi juga oleh kondisi sosial dan emosional peserta didik. Dalam pembelajaran DKV, kemampuan menggambar setiap murid berbeda. Ada murid yang percaya diri, tetapi ada pula yang mudah merasa minder ketika hasil karyanya belum sesuai harapan. Hal tersebut membuat saya menyadari bahwa guru perlu menghubungkan pembelajaran akademik dengan dukungan emosional agar murid merasa aman untuk mencoba, bertanya, dan memperbaiki kesalahan.
2. Challenge (Tantangan) Tantangan yang saya identifikasi adalah bagaimana mengintegrasikan PSE secara nyata tanpa mengurangi ketercapaian tujuan pembelajaran akademik. Guru perlu mengelola waktu, menjaga suasana kelas tetap kondusif, dan memastikan seluruh murid mendapatkan kesempatan untuk berpartisipasi. Ketika murid mengalami kesulitan menggambar, mereka dapat merasa frustrasi atau kehilangan kepercayaan diri. Di sisi lain, kegiatan diskusi kelompok juga menuntut kemampuan mendengarkan, menghargai pendapat, dan menerima masukan. Tantangan tersebut membuat saya memahami bahwa guru perlu mengelola respons emosionalnya sendiri sekaligus memberikan dukungan yang sesuai dengan kebutuhan murid.
3. Concept (Konsep) Konsep utama yang saya pelajari adalah lima kompetensi PSE berdasarkan kerangka CASEL, yaitu kesadaran diri, pengelolaan diri, kesadaran sosial, keterampilan berelasi, dan pengambilan keputusan yang bertanggung jawab. Kelima kompetensi tersebut dapat diintegrasikan dalam kegiatan pembelajaran. Kesadaran diri membantu murid mengenali perasaannya ketika menghadapi kesulitan, sedangkan pengelolaan diri membantu mereka tetap tekun dan mengatur waktu. Kesadaran sosial dan keterampilan berelasi mendukung kerja sama serta sikap saling menghargai. Sementara itu, pengambilan keputusan yang bertanggung jawab membantu murid menentukan langkah belajar dan memperbaiki pekerjaannya. Saya juga memahami bahwa guru harus menjadi teladan melalui komunikasi yang santun, empati, dan sikap terbuka terhadap kesalahan sebagai bagian dari proses belajar.
4. Change (Perubahan) Setelah mengikuti mata kuliah ini, saya berkomitmen untuk mengintegrasikan PSE secara lebih konsisten dalam pembelajaran. Saya akan membiasakan diri menyapa murid, memeriksa kesiapan emosional mereka, dan memberikan ruang refleksi singkat pada awal atau akhir pembelajaran. Dalam kegiatan praktik DKV, saya akan memberikan umpan balik yang berfokus pada proses dan perkembangan, bukan hanya hasil akhir. Saya juga akan membangun budaya kelas yang tidak membandingkan karya secara negatif, mendorong setiap murid untuk berpartisipasi, dan memberikan pendampingan kepada murid yang mengalami kesulitan. Dengan demikian, saya berharap pembelajaran menjadi lebih aman, manusiawi, dan mendukung perkembangan akademik maupun sosial emosional peserta didik.
Artefak Utama: Modul Ajar Perspektif ↗
02 / PMAL

Pembelajaran Mendalam dan Asesmen Lanjut

Fokus: Mengubah data asesmen menjadi keputusan pembelajaran yang tepat, bermakna, dan sesuai kesiapan murid.

Pengalaman utama: Menggunakan asesmen awal dan prinsip Desain Universal untuk Pembelajaran (DUP) dalam merancang pembelajaran Menggambar Perspektif.

Baca Refleksi Lengkap (4C)
1. Connection (Keterkaitan) Pengalaman belajar yang paling bermakna bagi saya adalah ketika mempelajari dan menyusun perencanaan pembelajaran yang berangkat dari kebutuhan serta kesiapan belajar peserta didik. Melalui laporan asesmen awal Logo Design dan perencanaan pembelajaran Menggambar Perspektif berbasis DUP, saya memahami bahwa setiap murid memiliki kemampuan awal, pengalaman, minat, dan kebutuhan dukungan yang berbeda. Pengalaman ini berkaitan langsung dengan peran saya sebagai calon guru di bidang DKV karena pembelajaran praktik tidak cukup dilakukan melalui penjelasan materi. Murid perlu memperoleh contoh, demonstrasi, latihan, dan pendampingan yang sesuai agar dapat memahami konsep sekaligus menerapkannya dalam karya.
2. Challenge (Tantangan) Tantangan utama yang saya hadapi adalah menerjemahkan hasil asesmen menjadi keputusan pembelajaran yang benar-benar tepat. Data asesmen dapat memberikan gambaran tentang kemampuan awal dan kebutuhan murid, tetapi guru tetap harus menentukan strategi, media, tingkat kesulitan tugas, serta bentuk pendampingan yang sesuai. Dalam pembelajaran Menggambar Perspektif, misalnya, sebagian murid lebih cepat memahami hubungan antara garis horizon, titik hilang, dan garis bantu, sedangkan murid lain masih memerlukan contoh dan bimbingan bertahap. Tantangan lainnya adalah mengelola waktu agar diferensiasi pembelajaran tidak membuat kegiatan menjadi terlalu rumit. Saya menyadari bahwa asesmen tidak akan memberikan manfaat optimal jika hasilnya hanya dicatat tanpa ditindaklanjuti.
3. Concept (Konsep) Konsep utama yang saya pelajari meliputi pembelajaran mendalam, asesmen diagnostik dan formatif, diferensiasi pembelajaran, serta Desain Universal untuk Pembelajaran. Asesmen diagnostik digunakan untuk memahami kondisi awal peserta didik, sedangkan asesmen formatif membantu guru memantau pemahaman dan memberikan umpan balik selama pembelajaran berlangsung. DUP menekankan pentingnya menyediakan berbagai cara bagi murid untuk mengakses materi, terlibat dalam kegiatan, dan menunjukkan pemahaman. Pembelajaran mendalam juga mendorong murid untuk tidak sekadar meniru langkah menggambar, tetapi memahami alasan penggunaan titik hilang dan garis perspektif, menerapkannya dalam karya, serta merefleksikan prosesnya. Saya memahami bahwa perencanaan pembelajaran yang baik harus menghubungkan tujuan, asesmen, aktivitas, dan kebutuhan murid secara konsisten.
4. Change (Perubahan) Saya akan menjadikan hasil asesmen sebagai dasar dalam menyusun dan memperbaiki pembelajaran. Sebelum mengajar, saya akan mengidentifikasi kemampuan awal serta kebutuhan dukungan peserta didik. Saya akan menyediakan contoh visual, demonstrasi langkah demi langkah, latihan terbimbing, dan tugas pengayaan sesuai kesiapan belajar. Selama pembelajaran, saya akan menggunakan pertanyaan pemantik, observasi, dan pemeriksaan hasil kerja untuk mengetahui kesulitan murid sedini mungkin. Setelah pembelajaran, saya akan menganalisis hasil asesmen dan refleksi murid untuk menentukan tindak lanjut. Saya juga akan memastikan bahwa setiap penyesuaian tetap mengarah pada tujuan pembelajaran yang jelas, sehingga pembelajaran menjadi lebih bermakna, inklusif, dan sesuai dengan perkembangan peserta didik.
03 / PPL

Praktik Pengalaman Lapangan (PPL) Mandiri

Fokus: Belajar dari praktik nyata, respons peserta didik, evaluasi, dan perbaikan pembelajaran secara berkelanjutan.

Pengalaman utama: Merefleksikan praktik mengajar pada Siklus 1 melalui evaluasi pembelajaran dan tindak lanjut umpan balik Guru Pamong.

Baca Refleksi Lengkap (4C)
1. Connection (Keterkaitan) Pengalaman belajar yang paling bermakna bagi saya adalah melaksanakan praktik mengajar mandiri dan merefleksikan proses pembelajaran berdasarkan respons peserta didik serta masukan Guru Pamong. Dalam refleksi Siklus 1, saya memahami bahwa apersepsi membantu murid menghubungkan materi sebelumnya dengan materi baru sehingga mereka lebih mudah memahami arah dan tujuan pembelajaran. Kegiatan inti yang melibatkan penjelasan, demonstrasi, praktik, dan pendampingan juga membantu murid mengikuti pembelajaran secara lebih aktif. Penggunaan PPT, gambar, dan contoh visual membuat materi lebih konkret serta membantu murid memahami langkah yang perlu dilakukan sebelum berlatih secara mandiri. Pengalaman ini memperkuat pemahaman saya bahwa menjadi guru profesional tidak cukup hanya menguasai materi dan menyampaikan pembelajaran, tetapi juga perlu mengamati respons murid, mengevaluasi pelaksanaan pembelajaran, dan melakukan perbaikan secara berkelanjutan.
2. Challenge (Tantangan) Tantangan yang saya temukan dalam refleksi Siklus 1 adalah mengelola waktu pembelajaran agar seluruh murid memperoleh kesempatan yang cukup untuk memahami materi dan menyelesaikan praktik. Beberapa murid membutuhkan waktu lebih panjang sehingga kegiatan belum sepenuhnya berjalan sesuai alokasi waktu yang direncanakan. Selain itu, masukan Guru Pamong menunjukkan bahwa instruksi perlu disampaikan dengan lebih jelas dan bertahap, serta pendampingan perlu disesuaikan dengan kemampuan murid. Saya menyadari bahwa instruksi yang kurang terstruktur dapat menyulitkan murid dalam mengikuti langkah kegiatan, sedangkan pendampingan yang belum sesuai kebutuhan dapat membuat sebagian murid tertinggal dan sebagian lainnya kurang memperoleh tantangan. Oleh karena itu, saya perlu memperbaiki pengelolaan waktu, menyusun demonstrasi secara lebih runtut, dan memastikan setiap murid memahami langkah kerja sebelum melanjutkan ke tahap berikutnya.
3. Concept (Konsep) Konsep yang saya pelajari melalui PPL Mandiri adalah pembelajaran berpusat pada peserta didik, penggunaan media pembelajaran yang sesuai, demonstrasi, pengelolaan kelas, pemberian umpan balik, serta refleksi berbasis pengalaman. Saya memahami bahwa apersepsi dapat membantu menghubungkan pengetahuan awal murid dengan materi baru, sedangkan demonstrasi dan media visual dapat membuat penjelasan lebih konkret. Namun, strategi tersebut perlu disertai instruksi yang jelas, waktu praktik yang memadai, dan pendampingan yang sesuai dengan kebutuhan murid. Masukan Guru Pamong juga mengajarkan saya bahwa refleksi bukan sekadar mencatat kekurangan, tetapi merupakan proses mengidentifikasi bagian pembelajaran yang sudah berjalan baik dan bagian yang perlu diperbaiki. Dengan demikian, evaluasi terhadap proses pembelajaran dapat menjadi dasar untuk mengambil keputusan yang lebih tepat pada praktik berikutnya.
4. Change (Perubahan) Ke depan, saya akan memperbaiki praktik mengajar dengan menyusun instruksi yang lebih singkat, jelas, dan bertahap. Saya akan memperkuat demonstrasi sebelum praktik, menggunakan contoh visual yang relevan, serta memastikan murid memahami langkah kerja sebelum melanjutkan ke tahap berikutnya. Saya juga akan mengalokasikan waktu secara lebih terencana dengan mempertimbangkan kemungkinan adanya murid yang membutuhkan waktu tambahan. Dalam memberikan pendampingan, saya akan menggunakan contoh sederhana bagi murid yang masih mengalami kesulitan dan memberikan tantangan tambahan bagi murid yang lebih siap. Setelah pembelajaran, saya akan mencatat keberhasilan, kendala, respons murid, dan masukan Guru Pamong sebagai bahan evaluasi. Dengan menerapkan perbaikan tersebut, saya berharap dapat berkembang menjadi guru yang reflektif, adaptif, dan responsif terhadap kebutuhan peserta didik.
Artefak Utama: Refleksi Siklus 1 ↗
04 / PK

Projek Kepemimpinan

Fokus: Kepemimpinan kolaboratif dalam proyek kreatif yang kontekstual.

Pengalaman utama: Mengidentifikasi kebutuhan pendidikan dan merancang Creative Leaders Hackathon (CLH) bagi siswa DKV.

Baca Refleksi Lengkap (4C)
1. Connection (Keterkaitan) Pengalaman belajar yang paling bermakna bagi saya adalah ketika mengidentifikasi persoalan dalam lingkungan pendidikan dan mengembangkannya menjadi rancangan Projek Kepemimpinan. Melalui Tugas 2.1, saya mempertimbangkan kebutuhan peningkatan kualitas pembelajaran, penguatan pendidikan inklusif, serta pemanfaatan teknologi dan media pembelajaran. Pemikiran tersebut kemudian berkaitan dengan rancangan Creative Leaders Hackathon untuk siswa DKV SMK Labschool UNESA 1 Surabaya. Proyek ini menghubungkan kompetensi desain grafis, kampanye digital, produksi video Iklan Layanan Masyarakat, dan pengembangan keterampilan kepemimpinan. Pengalaman tersebut membantu saya memahami bahwa kepemimpinan dalam pendidikan bukan hanya tentang mengarahkan orang lain, tetapi juga tentang mengenali masalah, menyusun tujuan, mengoordinasikan sumber daya, dan menciptakan pengalaman belajar yang bermanfaat.
2. Challenge (Tantangan) Tantangan utama dalam merancang proyek ini adalah memastikan tujuan kegiatan dapat dicapai melalui pembagian peran dan tanggung jawab yang jelas. Proposal mengidentifikasi persoalan ketimpangan partisipasi dalam kerja kelompok, kecenderungan sebagian peserta didik menjadi dominan, serta perlunya penguatan manajemen waktu dan inisiatif. Oleh karena itu, proyek tidak cukup hanya menghasilkan konten desain dan video, tetapi perlu dirancang agar setiap anggota memiliki kesempatan berkontribusi. Tantangan lainnya adalah menyusun target yang terukur, menentukan tahapan kegiatan, dan menyiapkan mekanisme evaluasi. Saya memahami bahwa proyek kolaboratif membutuhkan perencanaan yang matang, komunikasi yang konsisten, dan mekanisme pemantauan agar kegiatan tidak hanya berorientasi pada produk akhir.
3. Concept (Konsep) Konsep utama yang saya pelajari adalah kepemimpinan pembelajaran, shared leadership, pembelajaran berbasis proyek, dan experiential learning. Kepemimpinan bersama memberikan kesempatan kepada anggota tim untuk mengambil tanggung jawab sesuai peran dan kompetensinya. Pembelajaran berbasis proyek memungkinkan peserta didik mengembangkan keterampilan teknis sekaligus komunikasi, kolaborasi, pemecahan masalah, dan manajemen waktu. Sementara itu, pengalaman belajar yang kontekstual menghubungkan tugas sekolah dengan situasi kerja yang relevan. Dalam rancangan CLH, prinsip-prinsip tersebut diterapkan melalui pembagian peran, target kegiatan, mentoring, presentasi, dan evaluasi. Saya juga memahami pentingnya menyusun tujuan yang spesifik, terukur, dapat dicapai, relevan, dan memiliki batas waktu agar keberhasilan proyek dapat dievaluasi secara lebih objektif.
4. Change (Perubahan) Saya akan mengembangkan kemampuan kepemimpinan dengan lebih terstruktur ketika merancang dan memfasilitasi kegiatan pembelajaran berbasis proyek. Saya akan memastikan tujuan, pembagian peran, jadwal, dan indikator keberhasilan dipahami oleh seluruh anggota. Saya juga akan mendorong kepemimpinan bersama, memberikan ruang bagi setiap peserta didik untuk menyampaikan ide, serta melakukan pemantauan berkala terhadap perkembangan pekerjaan. Apabila proyek dilaksanakan, saya akan menggunakan evaluasi proses dan hasil untuk mengetahui ketercapaian target serta kontribusi setiap anggota. Saya juga akan membiasakan refleksi setelah kegiatan agar pengalaman proyek dapat menjadi dasar perbaikan. Dengan demikian, saya berharap mampu menjadi pendidik yang tidak hanya mengarahkan kegiatan, tetapi juga membangun kolaborasi, tanggung jawab, dan kemandirian peserta didik.
Artefak Utama: Proposal CLH ↗
05 / PI

Pendidikan Inklusi

Fokus: Memahami kebutuhan individual peserta didik dan merancang pembelajaran inklusif berdasarkan data.

Pengalaman utama: Menganalisis kasus Alya, menyusun profil murid, dan merancang akomodasi pembelajaran berdasarkan kebutuhan individual.

Baca Refleksi Lengkap (4C)
1. Connection (Keterkaitan) Pengalaman belajar yang paling bermakna bagi saya dalam mata kuliah Pendidikan Inklusi adalah ketika menganalisis kasus Alya dan menyusun profil murid berdasarkan informasi awal serta kebutuhan asesmen lanjutan. Pengalaman ini membantu saya memahami bahwa setiap peserta didik memiliki karakteristik, potensi, hambatan, dan kebutuhan belajar yang berbeda. Sebagai calon guru bidang Broadcasting dan Perfilman yang juga berhadapan dengan pembelajaran praktik, saya menyadari bahwa kemampuan murid tidak dapat dinilai hanya dari hasil pekerjaan yang terlihat. Guru perlu memahami proses belajar, kondisi lingkungan, kemampuan awal, serta bentuk bantuan yang dibutuhkan. Pemahaman ini berkaitan erat dengan tanggung jawab saya untuk menciptakan pembelajaran yang memberikan kesempatan kepada seluruh murid untuk berpartisipasi dan berkembang.
2. Challenge (Tantangan) Tantangan yang saya pahami melalui mata kuliah ini adalah menentukan dukungan yang tepat tanpa membuat asumsi berlebihan mengenai kondisi peserta didik. Dalam kasus Alya, terdapat informasi tentang perhatian yang mudah teralihkan, kesulitan mengikuti instruksi panjang, dan keterbatasan interaksi sosial. Namun, informasi tersebut belum cukup untuk menyimpulkan seluruh kebutuhan dan potensi murid. Guru masih memerlukan observasi, wawancara, dokumentasi, dan asesmen yang sesuai. Tantangan lainnya adalah menerapkan akomodasi dalam pembelajaran sehari-hari, termasuk menyederhanakan instruksi, menyediakan media yang dapat diakses, mengatur lingkungan belajar, serta menjaga keterlibatan murid. Saya menyadari bahwa niat untuk bersikap inklusif perlu disertai pengetahuan, perencanaan, dan kolaborasi yang tepat.
3. Concept (Konsep) Konsep utama yang saya pelajari adalah pendidikan inklusif, identifikasi dan asesmen kebutuhan belajar, profil murid, akomodasi pembelajaran, serta kolaborasi antara guru, orang tua, dan tenaga profesional. Pendidikan inklusif menekankan kesempatan belajar yang setara tanpa diskriminasi. Identifikasi dan asesmen membantu guru memahami kemampuan, hambatan, minat, dan kebutuhan dukungan murid secara lebih sistematis. Profil murid kemudian digunakan sebagai dasar untuk menentukan strategi pembelajaran, bentuk evaluasi, dan akomodasi yang sesuai. Saya juga memahami bahwa penyesuaian tidak harus selalu berupa perubahan tujuan pembelajaran, tetapi dapat dilakukan melalui variasi media, instruksi, aktivitas, waktu, atau cara murid menunjukkan pemahaman. Dengan demikian, guru dapat menjaga tujuan belajar sambil memberikan akses yang lebih sesuai bagi keberagaman peserta didik.
4. Change (Perubahan) Setelah mengikuti mata kuliah Pendidikan Inklusi, saya berkomitmen untuk lebih cermat mengenali kebutuhan belajar peserta didik sebelum menentukan strategi pembelajaran. Saya akan membiasakan diri mengumpulkan informasi melalui observasi, komunikasi dengan murid, dan koordinasi dengan pihak terkait apabila diperlukan. Saya akan menyiapkan instruksi yang jelas dan bertahap, menyediakan alternatif media, memberikan waktu yang sesuai, serta memantau perkembangan murid secara berkala. Saya juga akan menghindari pelabelan dan tidak menjadikan hambatan belajar sebagai alasan untuk membatasi kesempatan murid berpartisipasi. Apabila menghadapi kebutuhan yang berada di luar kompetensi saya, saya akan berkolaborasi dengan orang tua, guru pendamping khusus, atau tenaga profesional. Saya berharap dapat membangun pembelajaran yang menghargai keberagaman, berorientasi pada potensi murid, dan memberikan kesempatan berkembang secara adil.
Artefak Utama: Strategi Akomodasi ↗

Dokumentasi

Artefak Pembelajaran Semester 2

Pembelajaran Sosial Emosional (PSE)

PDF • PSE

Komponen PSE Berdasarkan Kerangka CASEL

Analisis dilema sosial emosional guru.

Buka Artefak ↗
PDF • PSE

Studi Kasus Terpadu PSE

Kasus kelas gaduh dan teguran keras.

Buka Artefak ↗
PDF • PSE

Analisis dan Sintesis PSE

Rencana penerapan PSE untuk produksi film.

Buka Artefak ↗
PDF • PSE

Refleksi Pengalaman PSE

Refleksi pengalaman sekolah masa lalu.

Buka Artefak ↗
PDF • PSE

Lembar Kerja 2.2 — Studi Kasus Kehilangan Uang SPP

Penanganan masalah yang menjaga martabat.

Buka Artefak ↗
PDF • PSE

Karakteristik Guru sebagai Teladan

Identifikasi profil keteladanan guru.

Buka Artefak ↗
PDF • PSE

Aktivitas 2.4 — Guru sebagai Teladan

Menjadi teladan dan agen perubahan.

Buka Artefak ↗
DOCX • PSE

UTS PSE — Perencanaan Pembelajaran Perspektif

Rancangan integrasi PSE dalam materi gambar.

Buka Artefak ↗
DOCX • PSE

Modul Ajar Menggambar Perspektif

Modul lengkap dengan integrasi PSE.

Buka Artefak ↗

Pembelajaran Mendalam dan Asesmen Lanjut (PMAL)

DOCX • PMAL

LK 1 — Asesmen Diagnostik Logo Design

Laporan asesmen kognitif dan nonkognitif.

Buka Artefak ↗
DOCX • PMAL

LK 2 — Perencanaan Pembelajaran Perspektif Berbasis DUP

Implementasi Desain Universal untuk Pembelajaran.

Buka Artefak ↗
DOCX • PMAL

LK 3 — Pembelajaran Microsoft Excel Berbasis TaRL

Pembelajaran sesuai tingkat kemampuan.

Buka Artefak ↗
DOCX • PMAL

LK 4 — Pembelajaran Excel Berbasis CRT

Pendekatan tanggap budaya dalam pembelajaran.

Buka Artefak ↗
DOCX • PMAL

LK 5 — Pengolahan dan Pemanfaatan Hasil Asesmen Fotografi

Pemanfaatan asesmen untuk keputusan belajar.

Buka Artefak ↗

Praktik Pengalaman Lapangan (PPL) Mandiri

PDF • PPL

Refleksi Praktik Mengajar Siklus 1

Evaluasi pembelajaran dan respons peserta didik.

Buka Artefak ↗
PDF • PPL

Refleksi Praktik Mengajar Siklus 2

Evaluasi dan tindak lanjut Siklus 2.

Buka Artefak ↗
PDF • PPL

Refleksi Praktik Mengajar Siklus 3

Catatan: Identitas materi (Menggambar Bayangan) perlu diverifikasi terhadap isi (Tipografi).

Buka Artefak ↗
PDF • PPL

Refleksi Praktik Mengajar Siklus 4

Tindak lanjut dan perbaikan akhir siklus.

Buka Artefak ↗

Projek Kepemimpinan (PK)

DOCX • PK

Tugas 2.1 — Identifikasi Isu Pendidikan

Identifikasi kebutuhan pendidikan dengan SDG 4.

Buka Artefak ↗
PDF • PK

Proposal Projek Kepemimpinan Creative Leaders Hackathon DKV Kelompok 3

Rancangan hackathon, kampanye digital, dan ILM.

Buka Artefak ↗
PDF • PK

SMART Goals Creative Leaders Hackathon

Target terukur untuk proyek CLH.

Buka Artefak ↗
PDF • PK

Mind Map Projek Kepemimpinan

Peta pikiran perancangan proyek kepemimpinan.

Buka Artefak ↗

Pendidikan Inklusi (PI)

PDF • PI

Analisis Awal Kasus Alya

Identifikasi kebutuhan belajar awal.

Buka Artefak ↗
PDF • PI

Profil Alya

Penyusunan profil murid berdasarkan data.

Buka Artefak ↗
PDF • PI

Refleksi Pendidikan Inklusi

Refleksi tentang akomodasi dan asesmen.

Buka Artefak ↗
PDF • PI

Analisis Rancangan Pembelajaran untuk Semua Murid

Perencanaan yang responsif terhadap perbedaan.

Buka Artefak ↗
PDF • PI

Strategi Akomodasi Pembelajaran

Penyesuaian instruksi dan lingkungan belajar.

Buka Artefak ↗
PDF • PI

Strategi Akomodasi Pembelajaran — Dokumen Pendukung

Detail tambahan untuk strategi akomodasi.

Buka Artefak ↗
DOCX • PI

Analisis Pendidikan Inklusi dan PPDB

Tanggung jawab inklusi di tingkat sekolah.

Buka Artefak ↗

PERSONAL REFLECTION

“Belajar bukan hanya tentang apa yang saya ketahui, tetapi tentang bagaimana proses itu mengubah cara saya melihat, memahami, dan bertindak.”

Growth

From Learning to Becoming

01Learning
02Experience
03Reflection
04Growth
05Becoming

FINAL REFLECTION

Satu Semester, Banyak Pembelajaran.

Memahami murid sebelum menentukan strategi. Menggunakan asesmen sebagai dasar keputusan. Membangun lingkungan belajar yang aman. Mengembangkan kepemimpinan kolaboratif. Memperbaiki pembelajaran melalui umpan balik dan refleksi.

— Syaifullah Zuhri

Explore My Portofolio

Ruang belajar yang terus bertumbuh.